Tampilkan postingan dengan label Rak_Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rak_Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Konspirasi Adalah Keniscayaan

Resensi novel
THE LOST JAVA

Peperangan antara kebenaran dan kejahatan akan selalu terjadi. Di bumi ini ada sebagian orang yang dengan tulus mendedikasikan diri untuk kelestarian umat manusia. Sementara sebagian orang lagi, demi ambisi menguasai dunia, tak perduli jika seluruh umat manusia harus musnah ditangannya.
Secara umum, orang mengira bahwa agar tercipta sebuah tatanan kehidupan yang stabil, maka konfik yang terjadi harus diselesaikan. Namun bagi sebagian orang, konfik adalah amunisi yang harus ada. Jika perlu, konfik bahkan harus diciptakan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Dalam tatanan kehidupan global yang kompleks, konspirasi adalah keniscayaan! Siratan pesan itulah yang dipahatkan Kun Geia dalam novelnya The Lost Java (TLJ).
Peningkatan suhu global, ketidak stabilan iklim dan  peningkatan permukaan air laut adalah dampak yang umumnya diketahui dari global warming. Perlahan-lahan akan terjadi pula gangguan ekologis dan sosial. Kun Geia mengangkat klimaks dari global warming  yang belum lazim diketahui yaitu  Paleocene Eocene Thermal Maximum. Bencana besar berupa tertutupnya permukaan bumi dengan lapisan es yang menyebabkan kepunahan masal.
Para ilmuan yang pastinya paling mengetahui akan bahaya ini adalah kelompak yang ada di garda paling depan dalam mengatasi semua dampak yang timbul. Upaya-upaya dilakukan dari mulai pendidikan kesadaran publik, mempengaruhi kebijakan pemerintah sampai upaya praktis penanggulangan global warming di lapangan.
Begitulah yang dilakukan para ilmuan hasil imajinasi Kun Geia. Mereka mendedikasikan hidup untuk meneliti sebuah formula guna membuat hujan buatan di puncak tertinggi antartika, Vinson Masiff. Proyek ini bertujuan membuat hujan badai buatan sehingga menambah volume es dan menjaga es abadi yang sudah ada di antartika tetap membeku. Dengan begitu methane hydrates yang tersimpan di dalam es akan tetap tertimbun. Methane hydrates sendiri mempunyai efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari karbon dioksida.
Membaca novel TLJ yang ber-genre science-thriller fiction, setidaknya akan kita nikmati racikan antara dua unsur yaitu teori ilmiah yang mengasah otak dan adegan ketegangan yang memicu adrenalin. Tema global warming menuntut deskripsi fenomena ilmiah yang mampu dijelaskan secara cerdas. Begitu pula latar tempat utama yang diambil adalah Vinson Masiff, puncak pegunungan Antartika. Tempat yang  akan membayangi benak kita tentang sebuah tempat yang ekstrim dan menantang. Belum lagi keterlibatan jaringan internasional Dark Star Knight dengan misinya membentuk The New World Order.  Pemerintahan global dunia di tangan zionis yahudi.
Dua puluh empat Protocols of Zion  menjadi panduan Zionisme Internasional yang memiliki rencana besar untuk menghancurkan ummat beragama. Mereka menginginkan sebuah dunia dengan hanya beragama satu, agama yahudi. Sedangkan inti ajaran agama yahudi tidak lain adalah materialisme. Tujuan mereka dicapai dengan strategi-strategi licik, adu domba, kekuatan militer, perang, kecanggihan teknologi dan mencuci otak masyarakat dengan ideologi materialisme. Semua itu mereka bungkus atas nama kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan sepanjang masa.
Sebagai novel science, secara umum Kun Geia mendeskripsikan data dan fakta dengan baik. Mulai dari global warming itu sendiri, istilah-istilah kimia, fisika, kedokteran sampai istilah pendakian. Pada bagian awal novel saja kita disuguhi dengan detail  adegan yang membuat ngilu berupa proses operasi jantung pada  Gia Ihza, tokoh utama novel ini.
Kun Geia banyak melakukan pendekatan ilmiah yang tidak lazim diketahui umum. Pertama, global warming yang identik dengan karbondioksida, kini ia sandingkan lebih kuat dengan methana hydrates. Kedua, cara pendekatan solusi global warming yang identik dengan penghijauan dan  pengurangan bahan bakar dari fosil. Kun Geia menghadirkan mega proyek di novelnya berupa upaya penimbunan methane hydrates dengan hujan buatan. Ketiga, penjelasan tentang Paleocene Eocene Thermal Maximum yang tak banyak disadari orang.  Keempat, Kun Geia dengan berani menunjukan konspirasi pemanfaatan isu global warming sebagai perdagangan migas yang hanya menguntungkan pihak tertentu.  Secara ilmiah kualitas TLJ sudah mumpuni. Pastilah novel ini dibuat  melalui proses riset yang dalam dan cukup panjang.
Alur cerita TLJ memang tak sulit untuk dimengerti. Namun dengan adegan-adegan yang membuat pembaca  penasaran dan memacu adrenalin, alur TLJ tergolong cepat. Cara Kun Geia menjeda-jeda dari adegan dengan voltase tinggi ke voltase rendah atau sebaliknya, akan membuat pembaca geregetan. Namun disanalah letak menariknya. Entah Kun Geia memberi waktu pada pembaca untuk mengambil nafas atau ia bahkan berusaha untuk tetap mempertahankan ketegangan dengan mengulur-ulur cerita dengan adegan lain agar muncul rasa penasaran pembaca.
Ketegangan sudah dimulai dari awal bab ketika tim Warrriors of Antartic (WAR) yang akan menciptakan hujan buatan di puncak Vinson Masiff  gagal menuntaskan misinya. Ketegangan itu terus menerus berlanjut sampai misi tim WAR  kedua 31 tahun kemudian yang ternyata dibuntuti anggota organisasi yahudi internasional Dark Star Knight . Anggota Dark Star Knight sendiri berkepentingan untuk merampas formula yang digunakan tim WAR untuk mereka gunakan melenyapkan pulau Jawa di Indonesia.
Kepentingan Dark Star Knight sendiri untuk melenyapkan pulau Jawa tidak jauh dari misi utamanya menjadi penguasa dunia. Misi mereka adalah mengadu domba antara negara Indonesia dan negara tetangganya. Pertikaian akan terjadi, bahkan mungkin menyebabkan peperangan. Dalam waktu genting tersebut organisasi Zionis akan mengambil kesempatan sebagai pihak yang memberi bantuan. Maka makin bergantunglah Indonesia yang notabene mayoritas beragama islam itu dan negara-negara disekitarnya pada kekuatan organisasi Zionis.
Ketegangan juga muncul secara alami saat tim WAR menghadapi dasyatnya kekuatan alam di pegunungan antartika, puncak tertinggi Vinson Massif. Mendaki gunung dengan cuaca ekstim, keterbatasan fisik, keterbatasan pengalaman, suhu ekstrim dan membawa benda penting berupa formula pembuat hujan dilengkapi dengan nuklir untuk pemicu terbentuknya badai. Belum lagi ancaman organisasi   Dark Star Knight, yang sebelumnya telah sukes melenyapkan nyawa beberapa ilmuan mereka. Nuansa Thriller dalam novel TLJ berhasil membawa pembaca larut dalam ketegangan.  
Namun dibalik keberhasilan Kun Geia meracik cerita TLJ yang cantik, sebagai penikmat novel ada beberapa hal yang mengganjal di benak saya. Pertama, tentang ide cerita bahwa  Jaringan Zionis Internasional mengincar formula yang diracik oleh ilmuan lain. Bagi saya hal ini kurang masuk akal. Sepengetahuan saja, bangsa Yahudi adalah bangsa yang cerdas dan memiliki penemuan dan persenjataan yang serba canggih. Jadi untuk sekedar melenyapkan pulau Jawa dari peta dunia, tak perlu repot-repot menunggu formula dari ilmuan lain.
Kedua, jikalau motif pengejaran tim WAR adalah motif balas dendam Keinan atas kematian yunin istrinya, ini juga menurut saya kurang logis. Keinan memiliki fasilitas spionase internasional yang bahkan mampu menjebol kerahasiahan dua tempat musuhnya (Riyadi dan Wahyu) yang dilengkapi sistem keamanan canggih. Maka akan terasa aneh jika Keinan tidak mengetahui sekedar berita bahwa Yunin belum meninggal.
Ketiga, jika perhitungan saya benar, Garuda Putih Laboratory (GarPu Lab) didirikan tahun 1980. 35 tahun berikutnya dilakukan misi WAR 2, yang berarti tahun 2015. Sedangkan misi WAR 1 dilakukan 31 tahun sebelumnya, berarti sekitar tahun 1984. Artinya GarPu Lab sudah ada saat misi WAR 1 dilakukan. Pada saat itu Yunin menjadi pimpinannya, artinya suaminya Keinan harusnya mengetahui banyak tentang GarPu Lab karena mereka berdua juga ikut dalam penelitian dan misi WAR. Selain itu Mahmoud yang telah dipaksa menjadi mata-mata tahu persis dimana letak GarPu Lab tersebut. Maka kurang logis jika keberadaan GarPu Lab tidak mampu diketahui  Zionis.
Keempat, adalah hal yang paling utama mengganggu benak saya. Proyek WAR dengan penelitian yang memakan waktu sangat panjang dan biaya yang sangat mahal tidak dipersiapkan dengan baik alias dieksekusi dengan sangat gegabah. Proyek sepenting itu seharusnya dipersiapkan bertahun-tahun secara pasti siapa yang akan menjalankannya, kriteria orang yang menjalankannya dan berbagai prosedure operasional lainnya.
Dalam misi WAR 2, Gia yang memiliki keterbatasan fisik dibolehkan ikut. Padahal ilmuan sekaliber Gia cukuplah menjadi peneliti, untuk eksekusi perlu dipersiapkan tim lain. Sharma yang sama sekali tidak mengetahui proyek dari awal juga dibolehkan ikut begitu saja. Dalam misi ini juga terlihat ketika berangkat anggota tim tidak dibekali dengan  kemampuan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh, seharusnya telah dipersiapkan orang-orang dalam Misi WAR itu adalah orang yang telah dilatih naik gunung. Atau sekurang-kurangnya jika tidak ada latihan khusus mereka ditemani bodyguard yang bisa menjaga mereka baik dari ancaman alam maupun ancaman teroris zionis yang merongrong mereka.
Terlihat pula tidak adanya Standar Operasional Procedure yang dibekalkan pada tim ini. Buktinya pertama saat dengan ceroboh kompas yang dipakai adalah kompas analog. Kedua, ketika keadaan darurat menon-aktifkan roket, semua tim kebingungan apa yang harus dilakukan. Dua hal itu menurut saya adalah kesalahan yang fatal dalam misi sepenting ini.
Kelima, novel TLJ secara desain sangat menarik dan artistik. Namun konten diawal-awal buku yang menurut saya terlalu banyak endorsement cukup mengganggu. Cukuplah beberapa orang yang dinilai penting, atau komentarnya yang dinilai penting yang perlu dicantumkan. Kelemahan terakhir adalah masalah teknis berupa beberapa kesalahan menulis kata yang dapat diedit ulang dicetakan selanjutnya.
Secara umum, kelemahan The Lost Java yang saya tuliskan dalam resensi sebenarnya tertutup rapat oleh keberanian Kun Geia menjadikan novel ini begitu hidup dengan berbagai konspirasi sosial politik dan juga karena deskripsi latar tempat yang cukup  detail.  The Lost Java adalah novel yang patut menjadi referensi untuk berbagai kalangan. Bahasa TLJ yang ilmiah menjadikannya layak untuk dikonsumsi para akademisi. Namun karena ia tak melupakan penjelasan secara jelas dan lugas terhadap istilah-istilah asing yang dibawa, maka TLJ pun layak dikonsumsi masyarakat umum penikmat novel. The Lost Java juga merupakan novel yang kaya akan pesan mulai dari pesan keperdulian pelestarian alam, pesan persahabatan, pesan religi sampai pesan yang menyinggung masalah percintaan.

Judul                        : The Lost Java
Penulis                      : Kun Geia
Editor                       : Baharuddin dan Ika Yuliana K.
Penerbit                    : IG Press
Jumlah halaman         : xvi + 363
Cetakan pertama       : Juni 2012
ISBN                        : 978-602-18409-0-0

Kamis, 30 Juni 2011

I'm following you, 'From Beirut to Jerusalem'... !

“Kami berdua puluh dua orang, bekerja non stop selama tujuh puluh dua jam tanpa makan, minum, maupun tidur untuk menyelamatkan segelintir nyawa. Sementara di luar di kamp-kamp, ribuan penduduk sedang sekarat. Seandainya saya mengetahui, saya akan berlari ke jalan dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya. {Dr.Ang Swee Chai}”
***
Aku berjalan diantara puing-puing kamp Sabra dan Shatila. Aku menyaksikan rumah-rumah yang hancur. Mayat-mayat berserakan dengan kondisi mengenaskan dan berbau busuk. Banyak dari mayat itu yang tak bisa dikenali karena kondisinya tidak utuh terpotong sana-sini. Mereka telah di usir dari rumah mereka di Palestina, lalu merekapun dibantai dipengungsian mereka. Sisa penghuni berlalu lalang dengan wajah layu, seraya mencari-cari mayat-mayat saudara mereka. Setiap gundukan tanah dan puing-puing bangunan adalah kuburan masal. Kehancuran yang memilukan dan menyisakankan  kehidupan yang tak pantas didapatkan seorang manusia. Hidup di reruntuhan, tidak mendapat bahan makanan yang layak, tak cukup air bersih, dan tak ada jaminan keselamatan. Mereka hidup disisa-sisa keangkuhan dan kekejaman. Mereka hidup dengan bekas-bekas luka menganga.

Aku menyaksikan semua kehancuran itu dengan mataku sendiri melalui jendela dunia yang dikirimkan Dr.Ang Swee Chai lewat bukunya “From Beirut to Jerusalem”. Menulis buku ini bukanlah pekerjaan yang mudah untuk Dr. Swee karena menghidupkan kenangan-kenangannya yang menyedihkkan Demikian pula, membaca buku ini juga bukan hal yang mudah karena menoreh luka yang tak kalah menyakitkan.

Buku ini tak seperti buku-buku perjuangan warga Palestina yang sering kubaca, yang kebanyakan mengambil kaca mata warga Palestina dan melihat dari sudut sentimen keagamaan sebagai muslim. Dr. Swee memberiku kacamata yang lain yang sedikit banyak membelalakan mataku tentang perjuangan mereka yang hampir luput dari perhatianku. Perjuangan para relawan medis membantu para warga Palestina baik di kamp-kamp pengungsian atau pun di daerah pendudukan. Kegigihan mereka saat membangun puing-puing rumah sakit, bekerja banting tulang memenuhi kebutuhan pasien dan melakukan pertolongan tanpa pamrih pada korban. Mereka adalah orang-orang luar biasa. ‘Baik hati’  bukanlah kata yang cukup menggambarkan kepribadian mereka! Mereka mempunyai mental baja, keberanian yang kokoh dan semangat yang menyala-nyala.

Dr. Swee mewarisi semangat kedua orang tuanya yang merupakan anggota pergerakan perlawanan Jepang di Malaya (saat ini Singapura). Ia juga dibekali didikan yang disiplin dan cerdas. Ia meyakini bahwa ilmu yang dimilikinya tidaklah netral. Sains yang ia pelajari harus bermanfaat, harus dipakai untuk mengurangi beban orang-orang yang menderita dan miskin. Semenjak SMA ia telah berfikir tentang kemiskinan, kelaparan, hunian tak layak, penyakit dan masalah buta huruf. Teman-temannya menilainya aneh dan sok filosofis. Ia mendapat gelar dokter di University of Singapure dan gelar master di Inggris. Di Sekolah Kedokteran itulah Dr.Swee menjadi seorang pemeluk Kristen. Melalui FRCS ia menjadi relawan pertama kali ke Lebanon. Pada tahun 1982, ia berangkat ke Libanon karena tiga alasan. Pertama karena warga Libanon dan Palestina disana telah disakiti, kedua karena ia seorang Kristen yang mengembang misi “belas kasih” dan ketiga karena ia seorang dokter.

Semua berawal dari berita TV yang ia lihat bersama suaminya Francis tentang pendudukan Israel ke Libanon. Tiap malam pesawat Israel menjatuhkan bom ke petak-petak pemukiman sipil. Banyak orang tewas, banyak dari mereka adalah anak-anak. Blokade di lakukan Israel di mana-mana termasuk di kota Beirut. Bantuan medis dihalang-halangi, pasokan air, listrik dan makanan diputus. Koran-koran mengabarkan bahwa ratusan ribu kehilangan tempat tinggal dan empat belas ribu orang tewas karena penyerbuan ini. Kejadian ini menyulut emosi Dr. Swee dan tidak mengerti mengapa Israel melakukan hal ini.

Sebelumnya pandangan Dr.Swee adalah pandangan yang biasa dimiliki oleh orang non-muslim kebanyakan. Sebagai seorang Kristen, gereja mengajarinya bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Berkumplnya orang-orang Yahudi diseluruh dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam Kitab Injil. Ia juga bersimpati pada orang-orang Yahudi ketika terjadi pembantaian Yahudi di tangan Nazi. Dr.Swee memihak Israel dan menilai bahwa PLO (Palestine Liberation Organisation) adalah sekelompok orang Arab teroris, tukang bejak pesawat, tukang pasang bom dan membenci orang-orang Yahudi. Namun dengan kejadian yang ia saksikan, terketuklah jiwanya untuk menolong rakyat Libanon dan rakyat Palestina.

Sabra dan Shatila adalah nama dari sebuah pemukiman di pinggiran selatan Beirut Barat. Sabra dan Shatila merupakan rumah bagi warga Lebanon sekaligus warga Palestina yang terusir dari negerinya. Israel menyerang Lebanon dengan dalih bahwa PLO menggunakan Lebanon selatan untuk menyerang Israel Kesepakatan gencatan senjata akhirnya disepakati pada akhir Agustus. Isinya adalah PLO setuju untuk meninggalkan Lebanon dan menyerahkannya pada pengawasan internasional. Sebaliknya Israel setuju untuk tidak menyerang Beirut dan menjamin keamanan warga sipil Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsi. Pada awal September dilakukan evakuasi para pejuang PLO dari Beirut. Mereka meninggalkan keluarga mereka, istri, anak orang tua dan saudara-saudara mereka di pengingsian dengan harapan ada jaminan keselamatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Beberapa hari kemudian, Israel melanggar perjanjian. Mereka mengerahkan tentara di sekitar kamp-kamp pengungsi. Ironisnya pengawas internasional tidak meminta Israel mundur seperti saat mereka mengawasi evakuasi PLO. Israel menuduh bahwa masih banyak pejuang PLO yang berada di Beirut. Pada kenyataannya ini hanya dijadikan alasan untuk membantai warga sipil di kamp pengungsian. Pada tanggal 15-18 September pembantaian terjadi. Sekelompok besar suku Kata’eb dan Haddad (milisi falangis yang merupakan milisi kristen Libanon) dengan dukungan logistik dari Israel menduduki dan membantai orang-orang di pengungsian.

Militer Israel mengepung, menyegel kamp-kamp itu dan mendirikan pos-pos pengintaian di atap gedung-gedung tinggi di sekitarnya pada 15 September. Selama dua malam berikutnya, sementara milisi Falangis membantai para penghuni kamp pengungsian itu, militer Israel menjaga pintu-pintu keluar dan terus-menerus menembakkan cahaya suar di malam hari. Pasukan-pasukan Falangis memaksa mereka yang masih tersisa untuk keluar dari kamp untuk mengintrogasi dan membunuhi mereka. Bahkan terjadi pembantaian masal di sebuah stadion. Wartawan-wartawan asing yang setelah kejadian diizinkan masuk ke kamp menemukan ratusan jenazah yang berserakan di seluruh kamp. Sekitar 2.400 orang menjadi korban kebiadaban pembantaian tersebut.

Ketika penyerangan terjadi, Dr.Swee terus menerus menolong korban-korban yang datang ke rumah sakit selama tiga hari non stop. Tanggal 18 September ia digiring meninggalkan rumah sakit Gaza tempatnya bertugas. Saat itu ia baru sadar akan dahsyatnya kehancuran yang terjadi. Para relawan medis yang di introgasi di gedung PBB lalu mengirim mereka ke kedutaan AS dan menyuruh mereka pulang. Sementara sebagian teman-temannya masuk ke gedung Kedubes AS, Dr. Swee dan temannya Paul Morris mencari wartawan untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.

Sebagai dokter yang disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan medis, ia tidak terlalu faham akan peta perpolitikan yang mengendalikan segala situasi yang terjadi. Ia sadar ketika menyaksikan bukti-bukti yang didapatkan pers tentang tumpukan-tumpukan mayat yang terpotong-potong atau mayat yang dipenuhi bekas luka penganiyayaan. Mayat anak-anak dan orang tua renta dan mayat-mayat perempuan tanpa busana. Untuk pertama kalinya dia menangis menyadari apa yang terjadi. Pada awalnya ia terlalu sibuk hingga tak sempat memikirkan apapun selain menyelamatkan segelintir nyawa di rumah sakit. Ia menyadari bahwa yang terjadi bukanlah pertempuran, namun pembantaian. Pejuang PLO telah ditipu agar mereka meninggalkan keluarga mereka untuk kemudian dibantai.

Pemerintah Israel menyatakan bahwa tentara pertahanan mereka, IDF tidak bertanggungjawab atas kejadian-kejadian di Sabra dan Shatila. Pembantaian dilakukan oleh milisi Falangis. Namun demikian, ketika berita tentang pembantaian itu menyebar ke seluruh dunia, kontroversi itu makin berkembang. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Tel Aviv. Pada tanggal 28 September, pemerintah Israel memutuskan untuk membentuk sebuah Komisi Penyelidik. Pada saat Dr.Swee memberikan kesaksian di sidang tersebut, ia sangat kecewa. Ia mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang benar-benar perduli dengan orang-orang di kamp pengungsian Palestina. Israel pengadakan sidang tersebut hanya untuk membuktikan kepada dunia bahwa sistem demokrasi mereka sangat hebat sehingga memberi kesempatan rakyat Palestina untuk mengemukakan pendapat. Di depan hakim, Dr. Swee mungkin tak lebih dari simpatisan PLO. Mereka beranggapan bahwa orang-orang Palestina adalah ras yang lebih rendah dari manusia. Kesaksian Dr.Swee dinyatakan bertentangan dengan kesaksian para pejabat IDF.

Kepada pers Dr.Swee dengan kesal berkata “Kami berdua puluh dua orang, bekerja non stop selama tujuh puluh dua jam tanpa makan, minum, maupun tidur untuk menyelamatkan segelintir nyawa. Sementara di luar sana di kamp-kamp, ribuan penduduk sedang sekarat. Seandainya saya mengetahui, saya akan berlari ke jalan dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya”. Dr.Swee menyampaikan pesannya ke seluruh dunia, bahwa setiap manusia berhak hidup merdeka tanpa ancaman dan hidup layak layaknya manusia. Itu yang dia perjuangkan bahkan ketika ia pulang ke Inggris dan mendirikan MAP (Mediacal Aid For Palestinians). Organisasi yang sampai saat ini berkonsentrasi terhadap bantuan-bantuan medis untuk pengungsi palestina. Dedikasinya ini mengantarkannya mendapat penghargaan Bintang Palestina yang diberikan PLO padanya.

Sebenarnya pembantaian ini hanyalah satu dari begitu banyak pembantaian rakyat Palestina sejak tragedi Deir Yassin tahun 1948. Namun cukuplah gambaran Dr.Swee atas kondisi rakyat Palestina di kamp Sabra dan Shatila ini memberikan gambaran umum tentang kehidupan warga Palestina di kamp pengungsian. Israel menguusir warga Palestina dari negerinya dan menduddukinya. Israel berharap bangsa Palestina yang digiring ke luar Palestina dapat melebur dengan Negara yang menampung merea, sehingga mengikuti jejak komunitas-komunitas lain yang tek terhitung jumlahnya yang telah terhapus sejaran dan peta dunia. Namun para pengungsi Palestina enggan melakukannya. Mereka selalu ingin pulang ke rumah mereka. Dipengungsian mereka membangun komunits. Warga Paestina yang mengungsi sejak terusir dari tanah airnya telah terbiasa dengan kemiskinan, perang, penindasan dan pembunuhan. Keluarga mereka banyak yang meninggal, sedangkan sisanya tercerai-berai. Mereka sering berpindah-pindah tempat tanpa kepastian dengan tetap memegang harapan bahwa suatu hari mereka bisa pulang ke rumah mereka di Palestina.

Tahun 1985 kamp Sabra dihancurkan. Kamp Shatila melakukan perlawanan. Kamp tersebut dikepung dan menerima serangan besar-besaran dengan bom dan roket. Isolasi terhadap kamp dijalankan. Kondisi warga di kamp sangat memprihatinkan. Saat kondisi demikian darurat, para ulama mengizinkan warga di kamp Shatila memakan jasad manusia. Warga Shatila menyeru pada dunia bahwa mereka takkan menyerah dengan kelaparan. Mereka memang dibolehkan memakan jasad manusia, namun siapakah yang mampu memakan jasad orang-orang yang dicintai, anak, istri, ayah, ibu dan saudara-saudara mereka sendiri. Penduduk kamp Shatila menyongsong kematian mereka secara terhormat dan bermartabat. Tak satupun usaha Israel, baik pembantaian, pengepungan dan embargo makanan yang meruntuhkan semangat mereka.


Selasa, 28 Juni 2011

Emprees Orchid: Perempuan dan Intrik Politik

Oleh-oleh dari suamiku kali ini dua novel yang menggoda selera baca. Salah satunya adalah Emprees Orchid, sebuah novel Anchee Min tentang kisah hidup selir Kaisar Hsien Feng di era Dinasti Ch’ing, China. Suatu novel luar biasa tentang perempuan yang luar biasa. Seorang wanita yang berkarakter kuat, penuh gairah, seorang ibu yang penuh perhatian sekaligus seorang politikus yang hebat dan cerdas. 

Pertama membuka novel ini, aku disuguhi sebuah peta tentang gambaran umum kota terlarang. Imajinasiku tentang gambaran istana kekaisaran dari membaca buku lengkap sudah saat aku searching foto-foto dan vidio kota terlarang  di internet. Menakjubkan! Kota Terlarang terletak di tengah-tengah kota kuno Beijing dengan luas sekitar 720.000 meter persegi, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan (Wikipedia). Tidak seperti sekarang yang menjadi objek wisata, dulu tempat ini adalah kota yang ekslusif dimana tak setiap orang dengan mudah keluar masuk. Tempat ini kugambarkan sebagai simbol peradaban, budaya, keindahan,  keagungan, kekuasaan, sekaligus pula penjara. ^_^

Anggrek  yang setelah masa kejayaannya dikenal sebagai Tzu Hsu, memulai titik balik takdirnya saat ia memberanikan diri mengikuti seleksi calon selir kaisar Hsien Feng. Jeratan penderitaan selepas ayahnya, mantan gubernur Wuhu, di propinsi Anhwei meninggal  datang bertubi-tubi. Walaupun awalnya tak begitu yakin, namun keinginannya untuk terbebas dari kesulitan ekonomi membuatya berani mencoba mengubah nasib. Berbekal darah biru Manchu dan kebulatan tekadnya, mulailah ia mencari peluang menjadi salah satu dari tujuh isrti resmi kaisar diantara sekitar lima ribu gadis yang mendaftar. Setelah mengikuti bermacam seleksi yang panjang, akhirnya Anggrek yang dipanggil dengan nama klan keluarga Yehonala berhasil menjadi salah satu istri resmi kaisar. Walaupun bukan menjadi istri utama kaisar, Anggrek merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga kaisar, mendapat kehormatan dan memiliki jaminan materi untuknya dan keluarganya. Namun rasa beruntungnya tak bertahan lama setelah ia menyadari begitu beratnya hidup sebagai seorang istri kaisar.

Hidup sebagai satu dari sekitar tiga ribu perempuan yang diperuntukan untuk kaisar tentulah menyakitkan. Setiap hari di dera kesepian, penantian dan kecemasan. Jika kaisar tak meliriknya, bisa saja ia tak mendapat kesempatan barang semalam pun dengan sang suami. Begitu sulit mencari perhatian karena untuk bertemu kaisar pun melalui prosedur yang rumit dan panjang. Terlebih lagi dia betul-betul seorang diri memulai hidup di istana. Hidupnya di batasi di puri. Ia sadar melakukan sedikit kesalahan bisa vital akibatnya. Nyawa jaminannya. Untunglah takdir mempertemukannya dengan kasim yang menjadi pelayannya. Pelayan yang begitu setia, cerdas dan memiliki banyak koneksi, An-te-hai namanya. An-te-hai-lah yang banyak membuka jalan baginya menjadi seorang permaisuri yang di perhitungkan. Mulai dari bagaimana sebaiknya ia bersikap, bagaimana menarik perhatian kaisar dan bagaimana menjalankan intrik-intrik politik pada lawan-lawannya. Tanpa sosok An-te-hai, menurutku cerita tentang putri Yehonala akan sangat berbeda.

Kaisar Hsien Feng hanya memiliki dua anak dari istri resminya. Putri Yehonala adalah satu-satunya istri yang memberi anak laki-laki yang diberi nama Tung Chih sebagai pewaris tahta ayahnya. Sedangkan putri Jung didapatkannya dari istrinya putri Yun.  Putri Yun berakhir di tiang gantungan karena diduga melakukan guna-guna terhadap putra kaisar, Tung Chih.

Peran Nuharoo sebagai istri utama kaisar Hsien Feng  sangat mempengaruhi. Ia memiliki kedudukan lebih tinggi dari putri Yehonala. Ia bahkan pernah hampir mambunuh putri Yehonala beserta bayi yang dikandungnya dalam sebuah hukuman yang dijalankannya. Yehonala telah menjadi sebab meninggalnya seorang pelayan kesayangan Nuharoo yang dihadiahkan padanya. Untunglah hukuman terhadap Yehonala dibatalkan kaisar. Yehonala memerintahkan sang pelayan untuk di hukum cambuk.  Hukuman tersebut dia lakukan karena pelayan tersebut dinilai memata-matai semua kegiatan Yehonala termasuk keterlibatan dirinya dalam urusan kenegaraan yang dipercayakan kaisar Hsien Feng padanya. Tradisi dalam kerajaan, bahwa perempuan tak layak mengurusi urusan Negara. Minat mereka haruslah perhiasan-perhiasan, sulaman, dan urusan rumah tangga. Maka jika keterlibatannya dalam urusan negara diketahui publik, padahal kedudukan Yehonala belum kuat, maka posisi bahkan nyawanya bisa saja terancam.

Karakter putri Yehonala yang cerdas dan keras merupakan faktor pendukung dalam keberhasilannya menjadi seorang permaisuri. Putri Noharo tidak memiliki karakter seperti Yehonala. Sebagai putri bangsawan yang mengetahi persis tata cara hidup sebagai permaisuri, ia diajari peran perempuan yang tak banyak ikut campur urusan kenegaraan. Sebagai penganut Budha yang taat, ia lebih menginginkan kehidupan yang tenang, karena itu Nuharoo lebih pasif dalam urusan politik. Awalnya ketika perebutan perhatian diantara sesama istri  kaisar Hsein Feng Nuharoo memang banyak bermain. Namun ketika kondisi Negara memanas karena serangan tentara sekutu ke China, sedangkan kesehatan kaisar Hsein Feng makin menurun, Nuharoo malah menunjukan antipatinya terhadap urusan kenegaraan dan membiarakan hal tersebut diurusi Yehonala. Latar belakangnya sebagai putri gubernur dan karakter Yehonala yang kuat membuatnya siap untuk terlibat dalam wilayah politik kekaisaran. Kondisi inilah yang memperkuat posisi Yehonala.

Selain itu, hal yang paling menunjang keberhasilan Yehonala menjadi seorang permaisuri yang berpengaruh di dinasti Ch’ing  adalah sifatnya yang gigih dalam belajar. Saat kaisar Hsien Feng sakit dan hampir tak mampu mengerjakan tugas-tugas kenegaraannya. Di kamar tidur, Yehonala menggantikan tugasnya dengan melahap arsip-arsip kenegaraan yang sedemikian berat dan rumit. Ia rela belajar dengan tekun sampai mampu merumuskan keputusan-keputusan cerdas terhadap suatu masalah yang melanda negaranya. Hal ini dia lakukan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya bocor pula hingga melahirkan berbagai polemik. Pada kenyataannya, semua keputusan dalam hidupnya ia ambil bukan semata-mata karena ambisi atas kekuasaan. Semua itu karena ia mempertahankan diri didalam lingkungan istana. Ia sadar tanpa pengaruh, ia akan dengan mudah disingkirkan. Untungnya Kaisar sudah terlanjur percaya padanya.

Saat kondisi Negara makin gawat karena serangan tentara sekutu ke kota terlarang, hampir seluruh warga kekaisaran lari ke istana Jehol. Karena kesehatan yang makin memburuk, kaisar meninggal di Jehol.  Semula lawan politik yehonala, ketua dewan agung Su Shun telah mempengaruhi kaisar agar saat meninggal membawa serta Yehonala. Artinya ia akan dipaksa meninggal menemani kaisar. Namun dengan usaha yang dilakukannya dengan meminta bantuan pada adik  ipar sekaligus suami dari adiknya, ia lolos dari jebakan ini.

Kaisar meninggalkan wasiat bahwa sepeninggalnya, putra mahkota yang mewarisi tahtanya di dampingi dewan wali yang terdiri dari delapan orang  diketuai Su Shun yang dalam memutuskan sesuatu harus dengan persetujuan dua ibu suri yaitu Nuharoo dan Yehonala. Dalam kenyatananya Su shun banyak melakukan hal sesuai dengan kehendaknya tanpa sepengetahuan dua ibu suri. Bahkan ada upaya-upaya mengabaikan peran dan menjatuhkan posisi permaisuri, terutama Yehonala. Yehonala berkesimpulan bahwa Su shun memanfaatkan posisinya yang kuat untuk mengganti peran kaisar pewaris tahta yang masih kecil. Karena itu Nuharoo dan Yehonala bersepakat untuk memeranginya dengan meminta bantuan orang-orang yang dapat dipercaya seperti adik kaisar pangeran Kung dan komandan pengawal kekaisaran Yung Lu. Kelak, Yehonala terjebak dalam cinta yang menyiksa terhapad Yung Lu.

Suatu ketika saat seisi istana kembali dari Jehol ke kota terlarang Su shun melakukan percobaan pembunuhan pada Yehonala. Pembunuhan ini dapat digagalkan Yung Lu. Ketika kembali ke kota terlarang yang rusak karena penjarahan tentara sekutu Inggris, pihak Yehonala akhirnya berhasil menyingkirkan Su shun dengan memberinya hukuman pancung atas nama kaisar.

Anchee Min akhirnya menggodaku melahap The Last Empress yang menggambarkan masa-masa kepemimpinan Yehonala setelah menjanda selama empat puluh enam tahun. 


Kota terlarang, Sisa peninggalan dinasti Ming dan Ch'ing
Forbiden city lewat Gogle Earth

Visitourchina.com